Salah satu dari kompetensi pedagogik yang harus
dikuasai guru adalah memahami karakteristik anak didiknya, sehingga tujuan
pembelajaran, materi yang disiapkan, dan metode yang dirancang untuk
menyampaikannya benar-benar sesuai dengan karakteristik siswanya. Perbedaan
karakteristik anak dapat dipengaruhi
oleh perkembangannya, sehinggabanyak ahli psikologi perkembanganyang membahas
perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid
dengan sel telur sampai dengan dewasa.
a. Metode
dalam psikologi perkembangan
Ada
dua metode yang sering dipakai dalam meneliti perkembangan manusia, yaitu longitudinal
dan cross sectional. Metode longitudinal,l
mengamati dan mengkaji perkembangan satu atau banyak orang yang sama usia
dalam waktu yang lama. Sedangkan metode cross sectional,mengamati dan
mengkaji banyak anak dengan berbagai usia dalam waktu yang sama.
b. Pendekatan
dalam psikologi perkembangan
Dalam
kajian perkembangan,manusia dapat menggunakan pendekatan menyeluruh atau
pendekatan khusus (Nana Sodih Sukmadinata, 2009),yang mendeskripsikan semua
segi perkembanganseperti perkembangan fisik, motorik, social, intelektual,
moral, intelektual, emosi, religi, dsb.
c. Teori
perkembangan
Beberapa
teori perkembangan yang sering dijadikan acuan dalam bidang pendidikan, yaitu
teori menyeluruh/global (Rousseau, Stanley Hall, Havigurst), dan teori khusus/spesifik
(Piaget, Kohlbergf, Erikson)
1) Jean
Jacques Rousseau
1
Rousseau membagi perkembangan anak menjadi empat
tahap, yaitu :
a) Masa bayi infancy (0-2 tahun).
Pertumbuhan fisik lebih dominan dibandingkan perkembangan aspek lain, sehingga
anak disebut sebagai binatang yang sehat. b) Masa anak / childhood (2-12 tahun)
disebut masa perkembangan sebagai manusia primitive. c) Masa remaja
awal/pubescence (12-15 tahun), perkembangan intelektual yang pesat dan
kemampuan bernalar juga disebut masa bertualang. d) Masa remaja / adolescence
(15-25 tahun), terjadi perkembangan pesat pada aspek seksual, social, moral,
dan nurani, juga disebut masa hidup sebagai manusia beradab.
2) Stanley
Hall
Stanley
Hall mengemukukakan teori bahwa perubahan menuju dewasa merupakan bagian dari
proses evolusi, akan tetapi factor lingkungan dapat mempengaruhi cepat
lambatnya proses tersebut. Stanley Hall membagi proses perkembangan menjadi empat
tahap, yaitu:
a) Masa kanak-kanak / infancy (0-4 tahun), perkembangan
anak disamakan dengan binatang, yaitu melata atau berjalan.
b) Masa
anak / childhood (4-8 tahun), yaitu masa pemburu, anak haus akan pemahaman
lingkungan dan sekitarnya.
c) Masa
puber / youth 8-12 tahun), anak tumbuh dan berkembang tetapi sebagai makhluk
yang belum beradab.
d) Masa
remaja / adolescence (12 – dewasa), anak menjadi manusia beradab dan dapat menyesuaikan
diri dengan perubahan lingkungan.
3) Robert
J. Havigurst
Teori ini berpendapat bahwa cepat lambatnya pertumbuhan anak itu
tergantung pada tantangan dan problema yang dihadapi di lingkungannya. Havigurstmenyusun
sepuluh fase tugas perkembangan yang harus dikuasai anak, yaitu: a) Ketergantungan – kemandirian.
b)Memberi-menerima kasih saying. c) Hubungan social. d) Perkembangan kata hati.
e) Peran biososio dan psikologis.
f) Penyesuaian dengan perubahan badan. g) Penguasaan perubahan badan dan
motoric. h) Memahai dan mengendalikan lingkungan fisik. i) Pengembangan kemampuan
konseptual dan system symbol. dan j) Kemampuan
meolihat hubungan denganh alam semesta. Tugas perkembangan pada setiap fase
akan mempengaruhi penguasaan tugas-tugas pada fase berikutnaya.
4) Jean
Piaget
Piaget lebih memfokuskan
kajiannyapada aspek perkembangan kognitif yang melakukan pengamatan pada tiga
orang anaknya, serta mengelompokkannya dalam empat tahap, yaitu:
a) Tahap
sensorimotorik (0-2 tahun), kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak reflex,
bahasa awal, dan ruang waktu sekarang saja.
b) Tahap
praoperasional (2-4 tahun), anak mulai mengembangkan kemampuan menerima
stimulus, persepsi ruang dan waktu secara terbatas. Kemampuan bahasa mulai
berkembang, pemikiran masih statis, dan belum dapat berpikir abstrak
c) Tahap
operasional konkrit (7-11 tahun), anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas
menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat, dan membagi.
d) Tahap
operasonal formal (11-15 tahun), anak sudah mampu berpikir tingkat tinggi,
seperti berpikir secara deduktif, induktif, menganalisis, mensintesis, berpikir
secara abstrak, serta mampu memecahkan berbagai masalah.
5) Lawrence
Kohlberg
Teori Kohlberg tidak jauh berbeda
dari teori Havigurst, namun teori ini lebih fokus pada kemampuan kognitif
moral, yang menganggap, bahwa kemampuan kognitif moral seseorang dapat diukur
melalui konflik dilema dalam dirinya mengenai kebenaran, keadilan, aturan, dan
kewajiban moral. Dan membagi perkembangan moral kognitif anak menjadi tiga
tahapan, yaitu:
a) Preconventional
moral reasoning
(1) Obidience
and paunisment orientation. Orientasi anak masih pada konsekuensi fisik
dari perbuatan benar-salahnya, yaitu hukuman dan kepatuhan, dan (2) Naively egoistic orientation. Anak
beorientasi pada instrument relative. Perbuatan benar adalah perbuatan yang
secara instrument memuaskan keinginannya sendiri dan (kadang-kadang) juga orang
lain.
b) Conventional
moral reasoning
(1) Good boy orientation. Orientasi
perbuatan yang baik adalah yang menyenangkan, membantu, atau disiepakati oleh
orang lain. (2) Authority and social order maintenance orientation, yaitu orientasi
anak pada aturan dan hukum.
c) Post
conventional moral reasoning
(1) Contranctual legalistic orientation. Tahap
ini, orientasi anak pada legalitas kontrak social, dan mulai peduli pada hak
azasi individu, serta hal yang baik adalah yang disepakati oleh masyarakat. (2)
Conscience or principle orientation. Orientasi adalah pada prinsip-prinsip
etika yang bersifat universal.
6) Erick
Homburger Erickson
Menurut Erickson
(dalam Harre dan Lamb, 1988), perkembangan, anak melewati delapan tahap yang
digambarkan pada table berkut ini;
|
TAHAP |
USIA |
KRISIS PSIKOSOSIAL |
KEMAMPUAN |
|
I |
0-1
|
Basic
trust vs mistrust |
Menerima,
dan sebaliknya, memberi |
|
II
|
2-3
|
Autonomy
vs shame and doubt |
Menahan
atau membiarkan |
|
III
|
3-6
|
Initiative
vs guilt |
Menjadikan
(seperti) permainan |
|
IV
|
7-12
|
Industry
vs inferiority |
Membuat
atau merangkai sesuatu |
|
V
|
12-18
|
Identity
vs role confusion |
Menjadi
diri sendiri, berbagi konsep diri |
|
VI
|
20an
|
Intimacy
vs isolation |
Melepas
dan mencari jati diri |
|
VII
|
20-50
|
Generativity
vs stagnation |
Membuat,
memelihara |
|
VII
|
>50
|
Ego
integrity vs despair |
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar