Translate

Senin, 27 Juli 2020

Pengembangan Pendidikan Karakter dan Potensi Peserta Didik

Salah satu dari kompetensi pedagogik yang harus dikuasai guru adalah memahami karakteristik anak didiknya, sehingga tujuan pembelajaran, materi yang disiapkan, dan metode yang dirancang untuk menyampaikannya benar-benar sesuai dengan karakteristik siswanya. Perbedaan karakteristik anak dapat dipengaruhi  oleh perkembangannya, sehinggabanyak ahli psikologi perkembanganyang membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai dengan dewasa.

a.    Metode dalam psikologi perkembangan

Ada dua metode yang sering dipakai dalam meneliti perkembangan manusia, yaitu longitudinal dan cross sectional. Metode longitudinal,l mengamati dan mengkaji perkembangan satu atau banyak orang yang sama usia dalam waktu yang lama. Sedangkan metode cross sectional,mengamati dan mengkaji banyak anak dengan berbagai usia dalam waktu yang sama.

b.    Pendekatan dalam psikologi perkembangan

Dalam kajian perkembangan,manusia dapat menggunakan pendekatan menyeluruh atau pendekatan khusus (Nana Sodih Sukmadinata, 2009),yang mendeskripsikan semua segi perkembanganseperti perkembangan fisik, motorik, social, intelektual, moral, intelektual, emosi, religi, dsb.

c.    Teori perkembangan

Beberapa teori perkembangan yang sering dijadikan acuan dalam bidang pendidikan, yaitu teori menyeluruh/global (Rousseau, Stanley Hall, Havigurst), dan teori khusus/spesifik (Piaget, Kohlbergf, Erikson)

1)   Jean Jacques Rousseau 

1

 
Rousseau membagi perkembangan anak menjadi empat tahap, yaitu :

a) Masa bayi infancy (0-2 tahun). Pertumbuhan fisik lebih dominan dibandingkan perkembangan aspek lain, sehingga anak disebut sebagai binatang yang sehat. b) Masa anak / childhood (2-12 tahun) disebut masa perkembangan sebagai manusia primitive. c) Masa remaja awal/pubescence (12-15 tahun), perkembangan intelektual yang pesat dan kemampuan bernalar juga disebut masa bertualang. d) Masa remaja / adolescence (15-25 tahun), terjadi perkembangan pesat pada aspek seksual, social, moral, dan nurani, juga disebut masa hidup sebagai manusia beradab.

2)   Stanley Hall 

Stanley Hall mengemukukakan teori bahwa perubahan menuju dewasa merupakan bagian dari proses evolusi, akan tetapi factor lingkungan dapat mempengaruhi cepat lambatnya proses tersebut. Stanley Hall membagi proses perkembangan menjadi empat tahap, yaitu:

a)     Masa kanak-kanak / infancy (0-4 tahun), perkembangan anak disamakan dengan binatang, yaitu melata atau berjalan.

b)   Masa anak / childhood (4-8 tahun), yaitu masa pemburu, anak haus akan pemahaman lingkungan dan sekitarnya.

c)    Masa puber / youth 8-12 tahun), anak tumbuh dan berkembang tetapi sebagai makhluk yang belum beradab.

d)   Masa remaja / adolescence (12 – dewasa), anak menjadi manusia beradab dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.

3)   Robert J. Havigurst 

Teori ini berpendapat bahwa  cepat lambatnya pertumbuhan anak itu tergantung pada tantangan dan problema yang dihadapi di lingkungannya. Havigurstmenyusun sepuluh fase tugas perkembangan yang harus dikuasai anak, yaitu:  a) Ketergantungan – kemandirian. b)Memberi-menerima kasih saying. c) Hubungan social. d) Perkembangan kata hati. e) Peran biososio dan psikologis.            f) Penyesuaian dengan perubahan badan. g) Penguasaan perubahan badan dan motoric. h) Memahai dan mengendalikan lingkungan fisik. i) Pengembangan kemampuan konseptual dan system symbol. dan  j) Kemampuan meolihat hubungan denganh alam semesta. Tugas perkembangan pada setiap fase akan mempengaruhi penguasaan tugas-tugas pada fase berikutnaya.

4)   Jean Piaget

Piaget lebih memfokuskan kajiannyapada aspek perkembangan kognitif yang melakukan pengamatan pada tiga orang anaknya, serta mengelompokkannya dalam empat tahap, yaitu:

a)    Tahap sensorimotorik (0-2 tahun), kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak reflex, bahasa awal, dan ruang waktu sekarang saja.

b)   Tahap praoperasional (2-4 tahun), anak mulai mengembangkan kemampuan menerima stimulus, persepsi ruang dan waktu secara terbatas. Kemampuan bahasa mulai berkembang, pemikiran masih statis, dan belum dapat berpikir abstrak

c)    Tahap operasional konkrit (7-11 tahun), anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat, dan membagi.

d)   Tahap operasonal formal (11-15 tahun), anak sudah mampu berpikir tingkat tinggi, seperti berpikir secara deduktif, induktif, menganalisis, mensintesis, berpikir secara abstrak, serta mampu memecahkan berbagai masalah.

5)   Lawrence Kohlberg

Teori Kohlberg tidak jauh berbeda dari teori Havigurst, namun teori ini lebih fokus pada kemampuan kognitif moral, yang menganggap, bahwa kemampuan kognitif moral seseorang dapat diukur melalui konflik dilema dalam dirinya mengenai kebenaran, keadilan, aturan, dan kewajiban moral. Dan membagi perkembangan moral kognitif anak menjadi tiga tahapan, yaitu:

a)    Preconventional moral reasoning

    (1) Obidience and paunisment orientation. Orientasi anak masih pada konsekuensi fisik dari perbuatan benar-salahnya, yaitu hukuman dan kepatuhan, dan (2) Naively egoistic orientation. Anak beorientasi pada instrument relative. Perbuatan benar adalah perbuatan yang secara instrument memuaskan keinginannya sendiri dan (kadang-kadang) juga orang lain.

b)   Conventional moral reasoning

     (1) Good boy orientation. Orientasi perbuatan yang baik adalah yang menyenangkan, membantu, atau disiepakati oleh orang lain. (2) Authority and social order maintenance orientation, yaitu orientasi anak pada aturan dan hukum.

c)    Post conventional moral reasoning

     (1) Contranctual legalistic orientation. Tahap ini, orientasi anak pada legalitas kontrak social, dan mulai peduli pada hak azasi individu, serta hal yang baik adalah yang disepakati oleh masyarakat. (2) Conscience or principle orientation. Orientasi adalah pada prinsip-prinsip etika yang bersifat universal.

6)   Erick Homburger Erickson

Menurut Erickson (dalam Harre dan Lamb, 1988), perkembangan, anak melewati delapan tahap yang digambarkan pada table berkut ini;

TAHAP

USIA

KRISIS PSIKOSOSIAL

KEMAMPUAN

I

0-1

Basic trust vs mistrust

Menerima, dan sebaliknya, memberi

II

2-3

Autonomy vs shame and doubt

Menahan atau membiarkan

III

3-6

Initiative vs guilt

Menjadikan (seperti) permainan

IV

7-12

Industry vs inferiority

Membuat atau merangkai sesuatu

V

12-18

Identity vs role confusion

Menjadi diri sendiri, berbagi konsep diri

VI

20an

Intimacy vs isolation

Melepas dan mencari jati diri

VII

20-50

Generativity vs stagnation

Membuat, memelihara

VII

>50

Ego integrity vs despair

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar