Translate
Jumat, 07 Agustus 2020
Senin, 27 Juli 2020
Gerakan Pembebasan dan Pembaharuan Islam
a. Gerakan-gerakan
Pembebasan dan Pembaharuan Islam
Pada dasarnya
gerakan pembaharuan Islam adalah upaya untuk menyesuaikan (kontekstualisasi)
ajaran Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi modern yang dipelopori oleh; Muhammad Ali Pasya,
Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, Jamaluddin Al-Afgani, dll. Munculnya gerakan
ini dilatarbelakangi oleh sifat jumud (stagnan), merasa puas dengan ajaran yang
sudah ada, Persatuan di kalangan umat Islam mulai terpecah belah, adanya kontak
antara dunia Islam dan Barat, serta kekhawatiran para tokoh Islam dengan
berkembangnya “renaissance” di dunia
Barat yang “menyingkirkan” peran agama
dari kehidupan masyarakat. Gerakan-gerakan ini diantaranya;
1) Pan Islamisme,
yaitu; solidaritas antara seluruh umat Islam,dan bisa juga diartikan persatuan
seluruh umat Islam yang muncul pada pertengahan abad ke-19oleh Sayyid Jamaluddin
al-Afghani (1839-1897 M)
2) Nasionalisme, yaitugerakan
kebangsaan,yang berasal dari Baratmelalui
penjajahan, serta banyaknya pelajar muslim menuntut ilmu ke Eropa atau
lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Barat. Gerakan ini banyak muncul di negeri-negeri
muslim, terutama setelah perang dunia pertama, diantaranya :
Mesir,
yang dipelopori oleh Al-Tahtawi (1801-1873). Nasionalisme Mesir dipelopori oleh
Musthafa Kamil, Muhammad Faried Bey (1867-1919), dan Saad Zaghniul Pasya
(1857-1927),
Turki.Setelah
perang dunia pertama, tentara sekutu dari Inggris dan Prancis sudah menginjak
ibukota Turki Usmani, yaitu Istambul.Turki Usmani hampir punah dari muka bumi,
Tetapi kebangkitan semangat nasional dapat berhasil menghalaunya. Akhirnya,
pada tanggal 25 Juli 1925 ditandatangani perjanjian Lausanue, dan pemerintah
Mustafa Kemal mendapatkan pengakuan internasional.
India-Pakistan.Setelah
runtuhnya kerajaan Mughal tahun 1857, India menjadi jajahan Inggris.
Pembaharu-pembaharu di India mempunyai peranan masing-masing, Sayyid Ahmad
Khanmenganggap pentingnya ilmu pengetahuan, Sayyid Amir Ali dengan idenya bahwa
Islam tidak menentang ilmu pengetahuan dan kemajuan modern, dan Iqbal dengan
ide dinamikanya, amat membantu bagi usaha Jinnah dalam menggerakkan umat Islam
di India. Gerakan-gerakan pembebasan yang mulai dari Pan Islamisme dan
Nasionalisme kemudian mengilhami umat Islam di seluruh dunia akan pentingnya
kebebasan dan kemajuan diri, baik dari sisi politik kenegaraan maupun sains dan
ilmu pengetahuan. Gerakan-gerakan Ini yang menjadikan Islam begitu
diperhitungkan dalam percaturan politik kenegaraan di dunia.
b.
Era
Kebangkitan Islam
Kebangkitan Islam banyak dipelopori
oleh tokoh-tokoh karismatik, di antaranya;
Muhammad
Ali Pasha[1765 M] seorang keturunan Turki.Pembaharuan
yang dilakuan yaitu; dalam bidang politik, militer, ekonomi, pemerintahan
maupun pendidikan.
Syaikh
Muhammad Abduh [1849-1905 M] bersama muridnya Syaikh Rashid Ridha [1856-1935 M].
Pembaharuan yang dilakuan yaitu; 1.Purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dari
bid`ah dan khurafat; 2.Reformasi pendidikan tinggi Islam; 3.Reformasi doktrin
Islam berdasarkan pemikiran modern, 4.Mempertahankan Islam dari serangan-serangan
Barat-Kristendari sudut keilmuan.
Muhammad
Iqbal [1873-1938 M] dari India, seorang penyair sekaligus
filosof, tiga buah gagasannya, antara lain: 1. Pan Islamisme; 2. A Free
Personal Causality, atau hukum sebab akibat dari kehendak pribadi, termasuk tentang
ijtihad.3.Faham Dinamisme.
Jamaluddin
al-Afghani [1838-1897 M], pemikiran politik al-Afghani
tentang
negara dansistem pemerintahan,
yaitu ;1). Bentuk Negara dan Pemerintahan.2)
Sistem Demokrasi. 3) Pan Islamisme.
Era
Kebangkitan Islam mulai terbuka lebar dengan bangkitnya
Negara negara Islam daripenjajahan, terutama di Asia dan Afrika, yang
berpenduduk mayoritas Islamdengan didirikannya organisasi-organisasi Islam
internasional untuk memecahkan berbagai persoalan. Begitu juga kemajuandibidang
ekonomi di timur tengah, khususnya minyak, dan program teknologi nuklir
Pakistan dan Iran pada dekade 2000.Umat Islam yang berjumlah 1/7 lebih dari
jumlah penduduk dunia, setiap hari meningkat baik dalam jumlahnya atau pun
dalam kekayaan, dan nilai kedudukannya sekali lagi menemukan jatidiri dan
kejayaannya.Hal ini dikarenakan “renaissance” dan “paham materialism” bukan
lagi hal yang harus ditakutkan, tetapi justeru menjadi semangat dalam kemajuan
Islam melalui “Tajdid” dan Ijtihad”
Media, Bahan, dan Sumber Pembelajaran Berbasis ICT
1.
Media
Pembelajaran Berbasis ICT
Media
pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, merangsang
pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong
terciptanya proses belajar pada diri peserta didik. Salahsatu media
pembelajaran yang akhir-akhir ini sering
kita gunakan adalah Media Pembelajaran
berbasis ICTdengan memenfaatkan
teknologi informasi dalamberinteraksi, antara pengajar (guru) dan peserta didik
(murid) agar proses pembelajaran tidak lagi terbatas hanya pada ruang kelas,
dan waktu pembelajaran. Merekadapat bertemu dalam ruang teknologi informasi
(internet) dengan menggunakan alat/media computer ataupun laptop.
Fungsi utama
(ICT) dalam kegiatan pembelajaran,yaitu : sebagai alat (tools), untuk membantu
pembelajaran misalnya dalam mengolah kata, sebagai ilmu pengetahuan (science),
dan sebagai bahan atau alat bantu dalam pembelajaran (literacy). Dan
pengembangannya biasa menggunakan perangkat hardware seperti computer, LCD, projektor, CD, televise. Dansoftware seperti; penggunaan jaringan
internetyang dapat dilakukan untuk: pencarian data melalui Search Engine (Mesin
Pencarian), yahoo Mail, pembuatan blog pembelajaran, dan lain-lain. Selain itu
juga ada slide presentasi, seperti power point dan program aplikasi dalam
pembelajaran, seperti: program Al-Qur’an Flas dan program Al-Qur’an in Word,
program KV-Soft Flipbook.
a.
Kegunaan media
Kegunaan media secara umum adalah,
untuk: (1) memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis, (2) mengatasi
keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan daya indra, (3) menimbulkan gairah
belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar, (4)
memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual,
auditori & kinestetiknya (self regulated learning), (5) memberi rangsangan,pengalamandan
menimbulkan persepsi yang sama.
b.
Prinsip Pengembangan Media
Pembelajaran (ASSURE)
Model ASSURE adalah sebuah model
pengembangan media yang dikembangkan oleh Heinich dan kawan-kawan (1982) dalam
mengembangkan perencanaan penggunaan dan pembuatan media yang efektif.
c.
Jenis dan karakteristik media Pembelajaran
Ada beberapa jenis dan karakteristik
media belajar,diantaranya: (1) media grafis, (2) media audio, (3) media
proyeksi diam. Adapun Media Tekhnonologi informasi dan komunikasi yaitu: (1)
situs internet Arab, (2) E-Kutub Arabiyah (e-book), (3) CD Multimedia
Interaktif, dan (4) games online/offline.
d.
Sumber Belajar
Sumber Belajaradalah segala daya yang
bisa dimanfaatkan sebagai media pengajaran untuk kepentingan proses belajar
mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung sebagian atau secara
keseluruhan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Ada dua jenis sumber belajar yang dapat digunakan
dalam proses pembelajaran, yaitu; (1) sumber belajar yang dirancang atau sengaja
dibuat seperti; buku, brosur, ensklopedi, film, video, tipe, slides, film
strips, OHP; dan(2)sumber belajar berupa segala macam yang ada di sekeliling
kita seperti pasar, toko, museum, tokoh masyarakat dan sebagainya.
e.
Pengembangan Media Pembelajaran
Pengembangan media pembelajaranmenggunakan
langkah-langkah:
(1) mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar,serta media yang cocok dan
cara pencapaiannya, (2) merumuskan strategi dan caranya, (3) mengembangkan
naskah atau isi pesan, (4) memilih bentuk, jenis, serta merancang dan menye-lesaikan
media pembelajaran, (5) melakukan uji coba, evaluasi, dan perbaikan, (6)
melakukan evaluasi penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar.
2.
Bahan
Ajar
a.
Pengertian Bahan Ajar
Melihat dari beberapa pendapat ahli, maka
dapat disimpulkan bahwa, Bahan Ajar adalah segala bentuk bahan yang disusun
secara sistematis dandigunakan dalam membantu proses pembelajaran. Bahan ajar bisa berupa bahan tertulis dan tidak tertulis, sertamemungkinkan siswa dapat
menguasai kompetensi melalui materi yang disajikan, dan pada umumnya didesain
untuk keperluan pembelajaran dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan.Berbeda
dengan buku teks, yang merupakan sumber informasi yang disusun dengan struktur
dan urutan berdasar bidang ilmu tertentu, serta tidak berorientasi pada proses
pembelajaran atau pencapaian kompetensi.
b.
Manfaat dan Fungsi Bahan Ajar dalam
Sistem Pembelajaran
Manfaat bahan ajar bagi guru antara
lain;(1) Menghemat waktu mengajar, (2) menempatkan guru sebagai fasilitator,
dan (3)menciptakan suasana pembelajaran lebih efisien & interaktif.Sementara
bagi siswa; (1) dapatbelajar mandiri,
kapan dan dimana saja meskipun tanpa guru. (2) dapat belajar sesuai dengan
kemampuandan urutan materi yang dipilih sendiri-sendiri,serta (3) membiasakan
untuk membaca ilmu pengetahuan. Selanjutnya bahan ajar secara garis besar
berfungsi untuk;(1)Meningkatkan produktivitas pembelajaran. (2) Memberikan kemungkinan pembelajaran yang
sifatnya lebih individual.(3) Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap
pembelajaran; dan (4) Memungkinkan belajar secara seketika.
c.
Jenis-jenis Bahan Ajar
Bahan ajar secara umum dapat dikelompokkan
menjadi empat yaitu; (1) Bahan cetak (printed) antara lain; handout, buku, modul, lembar kerja siswa,
brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket. (2) Bahan ajar dengar
(audio), seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio. (1) Bahan
ajar pandang dengar (audio visual)seperti; Video/film, Orang/Nara Sumber, bahan
ajar interaktif (interactive teaching material), multimedia interaktif.
Materi pembelajaran juga termasuk dalam
Bahan ajar, yang secara umum terdiri
dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam
rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Diantara sekian
banyak Jenis bahan ajar, kita hanya akan membahas Lembar Kerja Siswa (LKS), dan
Modul, yaitu sebagaiberikut:
1)Lembar Kegiatan
Siswa (LKS)
Lembar
Kegiatan Siswa (student work sheet)
adalah lembaran-lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan peserta didik,
yang biasanya berupa petunjuk,
langkah-langkah dalam menyelesaikan suatu tugas, dan dapat digunakan untuk semua
mata pelajaran.Tujuannyauntuk memudahkan pemahaman siswa terhadap materi
pelajaran dalammencapai perencanaan, danmengefektifkan pelaksanaanpembelajaran.
Diantara
fungsi dan manfaat LKS bagiguru, yaitu; memiliki bahan ajar yang siap untuk digunakan,
dan menuntun siswa dalam berbagai kegiatan yang perlu diberikan. Sedangkan bagi
siswa, tidak perlu lagi mencatat atau
membuat ikhtisar atau resume pada buku catatannya, sebab dalam tiap LKS
biasanya sudah terdapat ringkasan seluruh materi
pelajaran, serta mendapatkan pengalaman belajar mandiri dan belajar memahami
tugas tertulis yang tertuang dalam LKS.Adapun penulisannya dibuat setelah silabus disusun, dimulai dengan
analisis kurikulum: (1) rumusan kompetensi dasar LKS, (2) menentukan alat
penilaian, (3) menyusun materi, (4) menentukan alat penilaian. Dan Struktur LKS
secara umum, yaitu: (1) judul, mata pelajaran, semester, tempat, (2) petunjuk
belajar, (3) kompetensi yang akan dicapai, (4) indicator, (5) informasi pendukung,
(6) tugas-tugas dan langkah-langkah kerja, dan (7) penilaian.
2) Modul
Modul merupakan alat atau sarana
pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi
yang dirancang secara sistematis dan menarik, untuk mencapai kompetensi yang
diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya. Penulisan modul bertujuan:
(1) memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat
verbal, (2) mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera, baik siswa
atau peserta diklat maupun guru/instruktur, (3) dapat digunakan secara tepat
dan bervariasi, (4) memungkinkan siswa atau peserta diklat dapat mengukur atau
mengevaluasi sendiri hasil belajarnya.Sedangkan Langkah-langkah penyusunan
modul dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu; tahap persiapan, tahap penyusunan dan tahap
validasi dan penyempurnaan.Adapun Karateristik Modul, yaitu; (1) Self instructional, mampu belajar mandiri.
(2) Self Contained, seluruh materi tersaji secara utuh dan menyeluruh. (3)
Stand alone, tidak tergantung pada media lain. (4) Adaptif, dapat menyesuaikan
dengan perkembangan zaman. (5) User friendly, akrab dengan pemakainya.
d. Langkah-langkahdalam
pemilihan bahan ajar
Langkah-langkah dalam pemilihan bahan
ajar, yaitu:(1) mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar
kompetensi dan kompetensi dasar, (2) identifikasi jenis-jenis materi
pembelajaran, dan (3) memilih jenis materi yang sesuai dengan standar
kompetensi dan kompetensi dasar.Sedangkan sumber yang dapat kita gunakan untuk
mendapatkan materi antara lain : (1) buku teks, (2) laporan hasil penelitian,
(3) jurnal (penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah), (4) pakar bidang
studi, (5) professional, (6) buku kurikulum, (7) penerbitan berkala, (8) penerbitan
berkala, (9) internet, dan lain-lain.
KONSEP DASAR PENILAIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
Konsep dasar PTK
Penelitian
Tindakan Kelas atau PTK merupakan bagian
dari penelitian tindakan. Penelitian tindakan merupakan salah satu strategi
pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan
kemampuan dalam mendetaksi dan memecahkan masalah.
Dari beberapa pengertian Penelitian Tindakan kelas
(PTK) yang diungkap oleh para ahli hampir tidak ditemukan perbedaan yang
mendasar dan rata-rata mempunyai konsep dan tujuan yang sama sehingga dapat
disimpulkan bahwa PTK adalah ; Penelitian yang dilakukan oleh pendidik untuk
mengatasi berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran agar dapat
meningkatkanproses pembelajaran di kelas menjadi lebih baik.
Prinsip PTK
PTK
memiliki prinsip yang berbeda dengan penelitian penelitian secara umum
dan penelitian model ini termasuk jenis penelitian kualitiatif. Prinsip-prinsip
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) secara umum adalah; a) tidak mengganggu tugas guru sebagai
pengajar; b) metode pengumpulan data
tidak menuntut waktu yang berlebihan;
c) Metodologi yang digunakan
harus reliable; d) Masalah berawal dari
kondisi nyata di kelas yang dihadapi dan harus memperhatikan etika
profesionalitas guru; e) dilakukan dalam
kelas, tetapi harus dilihat dalam konteks sekolah secara menyeluruh; g) tidak mengenal populasi dan sampel; h) tidak mengenal kelompok eksperimen dan
control; i) tidak untuk
digeneralisasikan.
Adapun manfaat
PTK adalah tumbuhnya budaya meneliti yang merupakan dampak dari pelaksanaan
tindakan secara berkesinambungan memberi
manfaat pada munculnya inovasi pendidikan.
Karakteristik PTK
Karakteristik PTK juga berbeda dari
penelitian secara umum, karakteristik PTK yaitu ;a. An inquiry on pratice from
within. b.Collaborativ. c. Reflective, Practice, Made Public. d. Every Day Pratical Problems. e.Teori menuju aksi. Sedangkan model PTK terdiri dari empat yaitu;Partisipatory Action
Research (PAR), Critical Action Research (CAR), Institusional Action Research
(IAR) dan Classroom Action
Research (PTK).
Secara
garis besar Penelitian tindakan kelas melalui empat tahapan, yaitu; (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3)
pengamatan, dan (4) refleksi.
4.
Sistematika Proposal PTK
Sistematika proposal PTK meliputi: (1) halaman
sampul usulan penelitian; (2) halaman
pengesahan; (3) judul penelitian; (4) bidang kajian; (5) pendahuluan;
(6) perumusan dan
pemecahan masalah; (7) tujuan penelitian; (8) manfaat hasil penelitian; (9) kajian pustaka; (10) rencana dan prosedur penelitian; (11)
jadwal penelitian; (12) biaya penelitian; (13) personalia penelitian; (14)
daftar pustaka; (15)
lampiran-lampiran, yang meliputi, (a)
instrumen penelitian; (b) curriculum vitae semua peneliti; (c) surat keterangan
dari kepala sekolah/instansi.
Penyusunan
proposal merupakan lengkah awal dalam kegiatan penelitian dan Sistematika
proposal PTK terdiri dari; (1)
judul, (2) latar belakang masalah,
(3) identifikasi masalah, (4) pembatasan dan perumusan masalah, (5) cara pemecahan
masalah, (6) tujuan tindakan, (7) manfaat tindakan, (8) kerangka konseptual dan
hipotesis tindakan, (9) metode penelitian. Metode penelitian mencakup
unsur-unsur: (a) subjek dan objek penelitian, (b) rancangan penelitian, yang
mencakup: perencanaan, tindakan, pengamatan, refleksi, perencanaan ulang, dst, (c) instrumen penelitian dan
teknik pengumpulan data, (d) analisis data dan kriteria keberhasilan.
Contoh sistematika proposal PTK
LEMBAR KERJA PTK
PEMBUATAN KERANGKA PROPOSAL
Nama :...........................................................
No. Peserta
:...........................................................
A. Judul Proposal
B. Pendahuluan
1. Deskripsi (gambaran) masalah
2. Identifikasi Penyebab Masalah
C. Perumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat/Kegunaan Penelitian
F. Kerangka Teoretis dan Hipotesis Tindakan
1. Kerangka Teoretis
2. Hipotesis Tindakan
G. Metode Penelitian
1.
Setting Penelitian.
2. Variabel penelitian
3. Prosedur Penelitian
4.
Rencana Tindakan
Perencanaan
………..
Tindakan ……………
Observasi/pengamatan ………
Refleksi ………………..
5. Pengembangan Instrumen
6.
Analisis Data
H.
Indikator keberhasilan
I.
Jadwal penelitian
J.
Daftar Pustaka
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru (KPPG)
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru (KPPG)
Hakekat Guru
Profesional
Guru
yang profesional adalah guru yang mencintai terhadap profesinya, walaupun
secara finansial mungkin kurang menjanjikan. Guru yang baik, ia akan merasa
senang kalau muridnya pintar, cepat paham, berakhlak mulia. Sebaliknya ia akan
sedih kalau muridnya bodoh, tidak paham dan tidak bermoral, tetapi dia tidak
benci terhadap murid-murid tersebut.
Kualifikasi dan
Kompetensi Akademik Guru
Kualifikasi guru harus memenuhi syarat minimal
berpendidikan S-1 atau diploma empat sesuai dengan bidang studi yang
diampunya,sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan
tujuan pendidikan nasional.
Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang
guru adalah kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial
dan kompetensi profesional.Peningkatan kompetensi guru dilaksanakan melalui; Pendidikan dan Pelatihan, Kegiatan Selain
Pendidikan dan Pelatihan, serta Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan.
Secara umum program peningkatan kompetensi
guru diselenggarakan dengan menggunakan prinsip-prinsip; 1).Demokratis dan
berkeadilan serta tidak diskriminatif. 2).Satu kesatuan yang sistemik. 3).proses
pembudayaan dan pemberdayaan guru yang berlangsung sepanjang hayat. 4).memberi
keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreativitas guru dalam proses
pembelajaran. 5).memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta
dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.
Secara khusus program peningkatan kompetensi
guru diselenggarakan dengan menggunakan prinsip-prinsip ; 1).Ilmiah.
b.Relevan. 2).Sistematis. 3).Konsisten.
4).Aktual
dan kontekstual. 5).Fleksibel. 6).Demokratis. 7).Obyektif. 8).Kompre-hensif.
9).Memandirikan. 10).Profesional. 11).Bertahap. 12). Berjenjang.
13). Berkelanjutan.
14).Akuntabel. 15). Efektif, dan 16).
Efisien,
Tugas dan Tanggung Jawab Guru
Tugas utama guru adalahmendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevalusi peserta
didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar
dan menengah. Sedangkantugas guru secara umumadalah mendidik, memberikan
dorongan, memuji, menghukum, membentuk contoh dan membisakan.
Adapun tugas
khusus seorang guru yaitu; Sebagai pengajar (intructional). Sebagai
pendidik (educator) dan Sebagai pemimpin (leadership)
Hak dan Kewajiban Tenaga Guru
1) Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan,
guru berhak mendapatkan penghasilan yang layak, perlindungan dalam melaksanakan
tugas, menda-patkan promosi, memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi,
ke-bebasan memberikan penilaian kepada pesertra didik, memeiliki kebebasan
berserikat dalam organisasi profesi, memperoleh pelatihan dan memperoleh rasa
aman.
2) Guru berkewajiban merencanakan,
melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, meningkatkan kualifikasi dan
komptensi secara berkelanjutan, bertindak obyektif dan tidak diskriminatif,
menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan dan memelihara dan memupuk
persauan dan kesatuan bangsa.
Landasan Pengembangan Profesionalitas Guru
Undang-Undang No. 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru wajib menjadi anggota organisasi
atau asosiasi profesi. Pembentukan organisasi atau asosiasi profesi dimaksud
dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Setiap organisasi, dalam hal ini organsasi
profesi itu mempunyai Kode Etik Guru Indonesia (KEGI) sebagai pedoman bersikap
dan berperilaku yang terwujud dalam bentuk nilai-nilai moral dan etika dalam
jabatan guru sebagai pendidik putera-puteri bangsa.
Strategi Pengembangan Profesionalitas Guru
Pembinaan
dan pengembangan profesi guru meliputi ;
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial dan kompetensi profesional.Pembinaan dan pengembangan profesi
guru sebagaimana dimaksud dilakukan melalui jabatan fungsional.Pembinaan dan
pengembangan karir meliputi; Penugasan, kenaikan
pangkat, dan promosi.Penugasan guru, terdiri dari; tugas sebagai Guru Kelas/Mata
Pelajaran dan Guru dengan tugas tambahan. Sedangkan Promosi Guru, berupa penugasan sebagai guru pembina, guru inti,
instruktur, wakil kepala, kepala, pengawas Sekolah/Madrasah, dan sebagainya.
AdapunKenaikan Pangkatdapat melalui Pendidikan dan Pengembangan
Profesi Guru.Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB)
Jenis kegiatannya meliputi pengembangan diri (diklat fungsional dan kegiatan
kolektif guru), publikasi ilmiah (hasil penelitian atau gagasan inovatif pada
bidang pendidikan formal, dan buku teks pelajaran, buku pengayaan dan pedoman
guru), karya inovatif (menemukan teknologi tepat guna; menemukan atau
menciptakan karya seni; membuat atau memodifikasi alat pelajaran; dan mengikuti
pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal, dan sejenisnya)
Unsur Penunjang, yaitu ;(1) Memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai
dengan bidang yang diampunya. (2) Melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru
sesuai dengan kriteria dan dilengkapi dengan bukti fisik
Pengembangan Pendidikan Karakter dan Potensi Peserta Didik
Salah satu dari kompetensi pedagogik yang harus
dikuasai guru adalah memahami karakteristik anak didiknya, sehingga tujuan
pembelajaran, materi yang disiapkan, dan metode yang dirancang untuk
menyampaikannya benar-benar sesuai dengan karakteristik siswanya. Perbedaan
karakteristik anak dapat dipengaruhi
oleh perkembangannya, sehinggabanyak ahli psikologi perkembanganyang membahas
perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid
dengan sel telur sampai dengan dewasa.
a. Metode
dalam psikologi perkembangan
Ada
dua metode yang sering dipakai dalam meneliti perkembangan manusia, yaitu longitudinal
dan cross sectional. Metode longitudinal,l
mengamati dan mengkaji perkembangan satu atau banyak orang yang sama usia
dalam waktu yang lama. Sedangkan metode cross sectional,mengamati dan
mengkaji banyak anak dengan berbagai usia dalam waktu yang sama.
b. Pendekatan
dalam psikologi perkembangan
Dalam
kajian perkembangan,manusia dapat menggunakan pendekatan menyeluruh atau
pendekatan khusus (Nana Sodih Sukmadinata, 2009),yang mendeskripsikan semua
segi perkembanganseperti perkembangan fisik, motorik, social, intelektual,
moral, intelektual, emosi, religi, dsb.
c. Teori
perkembangan
Beberapa
teori perkembangan yang sering dijadikan acuan dalam bidang pendidikan, yaitu
teori menyeluruh/global (Rousseau, Stanley Hall, Havigurst), dan teori khusus/spesifik
(Piaget, Kohlbergf, Erikson)
1) Jean
Jacques Rousseau
1
Rousseau membagi perkembangan anak menjadi empat
tahap, yaitu :
a) Masa bayi infancy (0-2 tahun).
Pertumbuhan fisik lebih dominan dibandingkan perkembangan aspek lain, sehingga
anak disebut sebagai binatang yang sehat. b) Masa anak / childhood (2-12 tahun)
disebut masa perkembangan sebagai manusia primitive. c) Masa remaja
awal/pubescence (12-15 tahun), perkembangan intelektual yang pesat dan
kemampuan bernalar juga disebut masa bertualang. d) Masa remaja / adolescence
(15-25 tahun), terjadi perkembangan pesat pada aspek seksual, social, moral,
dan nurani, juga disebut masa hidup sebagai manusia beradab.
2) Stanley
Hall
Stanley
Hall mengemukukakan teori bahwa perubahan menuju dewasa merupakan bagian dari
proses evolusi, akan tetapi factor lingkungan dapat mempengaruhi cepat
lambatnya proses tersebut. Stanley Hall membagi proses perkembangan menjadi empat
tahap, yaitu:
a) Masa kanak-kanak / infancy (0-4 tahun), perkembangan
anak disamakan dengan binatang, yaitu melata atau berjalan.
b) Masa
anak / childhood (4-8 tahun), yaitu masa pemburu, anak haus akan pemahaman
lingkungan dan sekitarnya.
c) Masa
puber / youth 8-12 tahun), anak tumbuh dan berkembang tetapi sebagai makhluk
yang belum beradab.
d) Masa
remaja / adolescence (12 – dewasa), anak menjadi manusia beradab dan dapat menyesuaikan
diri dengan perubahan lingkungan.
3) Robert
J. Havigurst
Teori ini berpendapat bahwa cepat lambatnya pertumbuhan anak itu
tergantung pada tantangan dan problema yang dihadapi di lingkungannya. Havigurstmenyusun
sepuluh fase tugas perkembangan yang harus dikuasai anak, yaitu: a) Ketergantungan – kemandirian.
b)Memberi-menerima kasih saying. c) Hubungan social. d) Perkembangan kata hati.
e) Peran biososio dan psikologis.
f) Penyesuaian dengan perubahan badan. g) Penguasaan perubahan badan dan
motoric. h) Memahai dan mengendalikan lingkungan fisik. i) Pengembangan kemampuan
konseptual dan system symbol. dan j) Kemampuan
meolihat hubungan denganh alam semesta. Tugas perkembangan pada setiap fase
akan mempengaruhi penguasaan tugas-tugas pada fase berikutnaya.
4) Jean
Piaget
Piaget lebih memfokuskan
kajiannyapada aspek perkembangan kognitif yang melakukan pengamatan pada tiga
orang anaknya, serta mengelompokkannya dalam empat tahap, yaitu:
a) Tahap
sensorimotorik (0-2 tahun), kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak reflex,
bahasa awal, dan ruang waktu sekarang saja.
b) Tahap
praoperasional (2-4 tahun), anak mulai mengembangkan kemampuan menerima
stimulus, persepsi ruang dan waktu secara terbatas. Kemampuan bahasa mulai
berkembang, pemikiran masih statis, dan belum dapat berpikir abstrak
c) Tahap
operasional konkrit (7-11 tahun), anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas
menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat, dan membagi.
d) Tahap
operasonal formal (11-15 tahun), anak sudah mampu berpikir tingkat tinggi,
seperti berpikir secara deduktif, induktif, menganalisis, mensintesis, berpikir
secara abstrak, serta mampu memecahkan berbagai masalah.
5) Lawrence
Kohlberg
Teori Kohlberg tidak jauh berbeda
dari teori Havigurst, namun teori ini lebih fokus pada kemampuan kognitif
moral, yang menganggap, bahwa kemampuan kognitif moral seseorang dapat diukur
melalui konflik dilema dalam dirinya mengenai kebenaran, keadilan, aturan, dan
kewajiban moral. Dan membagi perkembangan moral kognitif anak menjadi tiga
tahapan, yaitu:
a) Preconventional
moral reasoning
(1) Obidience
and paunisment orientation. Orientasi anak masih pada konsekuensi fisik
dari perbuatan benar-salahnya, yaitu hukuman dan kepatuhan, dan (2) Naively egoistic orientation. Anak
beorientasi pada instrument relative. Perbuatan benar adalah perbuatan yang
secara instrument memuaskan keinginannya sendiri dan (kadang-kadang) juga orang
lain.
b) Conventional
moral reasoning
(1) Good boy orientation. Orientasi
perbuatan yang baik adalah yang menyenangkan, membantu, atau disiepakati oleh
orang lain. (2) Authority and social order maintenance orientation, yaitu orientasi
anak pada aturan dan hukum.
c) Post
conventional moral reasoning
(1) Contranctual legalistic orientation. Tahap
ini, orientasi anak pada legalitas kontrak social, dan mulai peduli pada hak
azasi individu, serta hal yang baik adalah yang disepakati oleh masyarakat. (2)
Conscience or principle orientation. Orientasi adalah pada prinsip-prinsip
etika yang bersifat universal.
6) Erick
Homburger Erickson
Menurut Erickson
(dalam Harre dan Lamb, 1988), perkembangan, anak melewati delapan tahap yang
digambarkan pada table berkut ini;
|
TAHAP |
USIA |
KRISIS PSIKOSOSIAL |
KEMAMPUAN |
|
I |
0-1
|
Basic
trust vs mistrust |
Menerima,
dan sebaliknya, memberi |
|
II
|
2-3
|
Autonomy
vs shame and doubt |
Menahan
atau membiarkan |
|
III
|
3-6
|
Initiative
vs guilt |
Menjadikan
(seperti) permainan |
|
IV
|
7-12
|
Industry
vs inferiority |
Membuat
atau merangkai sesuatu |
|
V
|
12-18
|
Identity
vs role confusion |
Menjadi
diri sendiri, berbagi konsep diri |
|
VI
|
20an
|
Intimacy
vs isolation |
Melepas
dan mencari jati diri |
|
VII
|
20-50
|
Generativity
vs stagnation |
Membuat,
memelihara |
|
VII
|
>50
|
Ego
integrity vs despair |
|
-
Assitalliang SEKILAS TENTANG MANDAR PADA MASA PEMERINTAHAN TRADISIONAL Mandar merupakan satu kesatuan suku dan budaya rumpun m...
-
Bahan Ajar Sejarah : CONTOH KISI KISI UAS